Rencana Rahasia Ken

Wallpaper Rencana Rahasia Ken
Ilustrasi Rencana Rahasia Ken

Di beranda rumah yang tampak kecil itu, -- tidak terlalu kecil -- Ken duduk santai di kursi malas berwarna coklat. Matanya memandangi anak-anak kecil berseragam sekolah yang melintas di depannya, menggunakan sepeda yang jerujinya diberi botol air mineral. Sepeda-sepeda yang berbunyi ebrek-ebrek itu melintas dengan kecepatan penuh, lantaran kejauhan di belakang anak-anak kecil itu, -- sekitar sepuluh meter -- ada seorang perempuan tua berusia kepala enam, yang keluar dari rumahnya dan tampak memaki-maki jengkel dengan ulah anak-anak kecil yang mengganggu ketenangannya.

Ken tersenyum tergelitik dengan ulah anak-anak itu. Ia teringat masa lalu yang juga pernah melakukan tindakan konyol seperti anak-anak kecil yang melintas di depannya. Raut muka Ken mendadak mengkerut. Ia teringat pada seorang kakek yang pernah ia usili, tetapi kań∑ek itu meninggal sebelum ia sempat meminta maaf. Hal ini membuat Ken terus dihantui rasa berdosa ketika ia teringat kejadian itu.

Bersama lenyapnya anak-anak kecil, seorang penjual susu sapi murni menggunakan sepeda ontel yang tak lain adalah Bang Oji, melintas di depan rumah Ken. Ken langsung memanggilnya, berniat untuk membeli susu sapi murni.

"Bang. Beli, Bang!" Panggil ken sambil bangun dari kursi malasnya dengan suara yang mengagetkan Bang Oji.

"Oh Iya, Ken." Bang Oji segera mengerem dan membelokkan sepedanya ke arah Ken, berhenti tepat di depan Ken yang sudah beranjak mendekatinya sambil tersenyum.

Pakaian Bang Oji agak kluwus. Baju kemeja putih yang ia gunakan tampak sudah mulai kusam. Celana yang mirip karung ghoni itu juga terlihat rapuh. Topi koboinya terlihat berdebu. Tapi antiknya, tubuhnya terlihat bersih walaupun berkeringat.

"Mau beli susu berapa, Ken?" Tanya Bang Oji dengan terengah-engah sambil membuka tremos yang masih mengepulkan asap itu.

"Em...," Ken berpikir, "Dua aja deh, Bang. Gak usah banyak-banyak." Jawab Ken sambil merogoh saku celananya.

"Oke, siap Pak Bos." Dengan hormat layaknya hormat pada bendera, Bang Oji langsung cekatan mengambilkan dua bungkus susu sapi murni yang dibungkus menggunakan plastik hitam. Ken terkekeh melihat tingkah laku Bang Oji.

"Ini, Bos. Susunya masih anget, nih. Diminum langsung lebih seger." Bang Oji menyodorkan plastik hitam yang berisi dua bungkus susu sapi murni, lalu menutup tremos.

"Wah... mantap, Bang. Ini uangnya." Ken menyodorkan uang enam ribu sambil menerima susu sapi murni yang sudah dibungkus itu.

Sedangkan Bang Oji menerima uang dari Ken, menghitung sebentar, lalu Langsung berlarian, membelokkan sepeda, lalu menungganginya.

"Kok buru-buru, Bang?"

"Iya, Bos. Lagi diburu-buru sama pelanggan ini soalnya."

"Oooh...," Mulut Ken memoncong ke depan, "pantesan."

"Iya, Bos. Jalan dulu ya?" Bang Oji tersenyum sambil berlalu.

"Semangat Bang. Itu uangnya pas ya, Bang?" Ken memastikan.

"Pas mantap, Bos." Bang Oji sudah lenyap dari pandangan Ken.

Ken terkekeh, dan ia kembali duduk di kursi malasnya. Susu sapi murni itu diletakkan di meja sebelah tempat duduknya. Pikirannya melayang teringat masa lalunya, tepatnya masa lalu Bang Oji.

Bang Oji adalah salah satu pemuda yang cerdas, menurut Ken. Karena di sekolah -- hampir setiap semester -- Bang Oji seringkali mendapatkan 10 besar di kelasnya. Semua pelajaran nilainya di atas rata-rata teman-temannya.

Tapi sayangnya Bang Oji cuma pintar teorinya saja, sedangkan prakteknya, ia tidak bisa. Sekarang ia kesusahan dalam memenuhi administrasi sekolahnya, dan akhirnya ia harus berhenti sekolah karena masalah dana.

Tapi untungnya Bang Oji bertemu dengan Kholid, -- teman akrab Ken -- anak juragan sapi yang juga sudah menjadi juragan interior rumah itu, walaupun usianya masih 17 tahun. Bang Oji pun kini sudah mulai berbisnis kecil-kecilan berkat ilmu yang diajarkan oleh kholid kepadanya. Sungguh beruntungnya Bang Oji. Mungkin tahun depan ia akan melanjutkan pendidikan formal bangku kuliah, menurut perkiraan Ken.

***

Lamunan Ken buyar begitu saja. Ia teringat pagi itu berencana menemui Kholid untuk menyampaikan info yang dianggapnya penting.

Ken memalingkan wajahnya ke jam tangan yang sudah menunjukkan pukul 07.10 WIB. Ia segera bangun, mengambil susu murni itu, lalu berjalan menuju ke rumah Kholid yang berjarak 5 menit dari rumah Ken dengan berjalan kaki.

Dengan berjalan santai, Ken menelusuri jalan aspal perkampungan yang mulai ramai lalu lalang orang. Mereka terlihat sibuk beraktivitas. Jalan aspal yang lebarnya dua kali truk itu masih terlihat kuat karena hanya dilalui sepeda motor dan beberapa mobil saja. Di pinggiran jalan terlihat pepohonan hijau di sepanjang jalan. Pohon-pohon itu tertata rapi berjarak 5 meter satu sama lain. Suasananya terkesan asri. Udaranya pun masih segar untuk dirasakan. Suara-suara kicauan burung juga masih terdengar. Sungguh itu sebuah nikmat Tuhan yang tak mungkin didustakan.

***

Ken sudah sampai di depan pintu gerbang rumah mewah yang tak lain adalah rumah Kholid. Pintu gerbang besi berwarna coklat kehitaman itu terlihat gagah, menempel pada tembok tebal dan tinggi yang mengelilingi rumah itu. Dari luar tidak terlihat isi dalam gerbang itu. Di pojok gerbang ada tombol bell yang menempel menjorok ke dalam tembok tebal. Jika hujan turun, airnya tak mengenai tombol bell yang ada di dalamnya.

Ken memencet tombol bell. Beberapa saat kemudian pintu gerbang terbuka satu meter. Wajah yang tidak asing muncul dari dalam sambil tersenyum melihat Ken yang berdiri di depannya. Ia adalah Kang Dikin, Satpam yang masih melestarikan logat Jawa. Orangnya berbadan besar, lebih tepatnya gendut; tapi lugu, dan baik hati. Saking baik hatinya, Kang Dikin sering di usilin temen-temen Kholid termasuk Ken.

"Cari siapa, Nang?"

"Cari oranglah, Kang. Masak cari Kang Dikin."

"Emange aku dudu wong, Nang? Aku kan podo wae..."

"Ban Truk." Pangkas Ken sambil tertawa, lari menuju pintu masuk rumah Kholid yang jaraknya 20 meter dari pintu gerbang itu.

"Oalah, Dasar gemblung," Logat jawanya keluar, "awas kalau ketemu tak jewer lho." Ia kembali ke pos satpam sambil mengelus dada.

Dengan napas terengah-engah, Ken berhenti di depan pintu rumah Kholid penuh dengan kemenangan. Seperti biasanya iya langsung masuk ke dalam sambil memanggil Kholid. Tapi, tak ada tanda-tanda akan munculnya orang yang ia panggil. Ken memutuskan untuk masuk ke kamar Kholid. Baru melangkah ke ruang tengah, ia mendapati Kholid sedang tidur di kursi sofa dengan kepala menghadap ke langit-langit, dan mulut terbuka menganga.

"Hm... pantesan aja gak nyaut," Gumam Ken dengan raut muka penuh dengan rencana jahat, "ternyata molor." Mata ke menyapu pandang ke berbagai arah sambil mencari benda yang ia harapkan.

"Nah... ini nih, kayaknya cocok buat ngerjain si Kholid." Wajahnya terlihat cerah.

Ken mengambil kaca mata warna hitam yang ada di meja ruang tamu. Lalu kembali menuju ke arah Kholid. Dengan penuh kegirangan, kaca mata hitam itu dipakaikan ke Kholid yang sedang tidur.

"Ini nih, model selfi jaman now. wkwk." Ken tertawa penuh kemenangan. Ia merogoh saku celananya, dan mengeluarkan smartphonenya, lalu mengambil beberapa foto dari arah yang berbeda. Ia tertawa kegirangan.

Sudah puas mengambil foto Kholid, Ken menepuk pundak Kholid beberapa kali untuk membangunkannya. Beberapa kali tepukan tidak berhasil membangunkan Kholid, Ken memastikan bahwa Kholid tidak mengerjainya. Ia mendekatkan mukanya, tepat di depan muka Kholid.

"Kayaknya kecapekan dia," Ucapnya Sambil menatap lamat-lamat mata Kholid dari balik kaca mata hitam itu.

Karena tidak berhasil membangunkan Kholid, Ken memutuskan untuk menunggu Kholid di ruang tamu, sambil memperhatikan ruangan itu.

Ruang tamu itu lumayan luas dengan dinding warna putih cerah kekuningan. Dinding itu berhiaskan kain sulam yang dibingkai kaca bertuliskan ayat-ayat Alquran, di tembok sebelah selatan bagian timur. Untuk sebelah selatan bagian timur adalah dua lemari buku berbahan kayu jati, panjang yang menjadi pembatas antara ruang tamu dengan ruang tengah, sisanya untuk jalan penghubungnya. Sedangkan dinding sebelah timur, barat, dan utara adalah jendela kaca yang berbingkai kayu jati kuat, menyisakan bagian untuk pintu masuk yang berada di tengah. Kaca jendela itu dihiasi dengan ukir-ukiran timbul berwarna biru, hijau, dan kuning emas, terlihat sangat mengesankan. Di atasnya adalah fentilasi udara yang menyejukkan.

Langit-langitnya sama seperti ruang tengah, hanya saja berbentuk lebih memanjang. Lantainya menggunakan marmer warna putih mengkilap seperti ruang tengah, ada empat kursi sofa panjang dan dua kursi sofa pendek. Masing-masing ada di sebelah barat dan timur, dengan formasi 2-1 dan 2-1.

Kursi sofa itu sangat empuk dan nyaman, termasuk juga kursi panjang yang sedang ditempati Ken.

"Hm... nyaman banget," Ken membaringkan tubuhnya di kursi sofa empuk itu, "tidur, ah." Ken memejamkan mata.

Pikiran Ken melayang entah kemana, menghayal tanpa batas. Membayangkan masa depannya yang penuh dengan kebahagian dan kemewahan. Desiran angin sepoi-sepoi dari fentilasi membuat Ken terhanyut dalam mimpi yang indah tak berkesudahan.

***

Kholid membuka matanya, pandangannya masih seperti sebelum ia masuk portal. Hanya saja, wajah misterius itu sudah lenyap entah kemana.

Ada sesuatu mengganjal yang Kholid rasakan di sekitar kupingnya. Ia baru sadar kalau ternyata yang membuat pandangan matanya serba hitam adalah kaca mata hitam itu.

"Perasaan, tadi aku gak pake kaca mata." Gumam Kholid sambil mengingat-ingat sebelum kejadian aneh itu menghampirinya. Sorot matanya menyapu seluruh ruangan. Tapi ia tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan, hanya saja ia menemukan plastik hitam, di meja kaca yang ada di depannya.

"Ini apaan?" Kholid mengernyitkan dahi sambil membuka plastik hitam itu. Ia melihat dua bungkus susu sapi murni.

"Hmm... pagi-pagi gini udah dapet rejeki nomplok," Kholid kegirangan, "terima kasih, Ya Allah."

"Ups... tunggu dulu,"Kholid curiga, "jangan-jangan..." Kholid menampar pipinya beberapa kali dengan tamparan yang keras.

"Aduh!" Kholid nyengir kesakitan.

"Hehe... bukan mimpi ternyata. Alhamdulillah." Kholid tersenyum kegirangan. Susu itu langsung diminumnya tanpa ia cari tahu siapa pemiliknya.

Gluk Gluk Gluk

"Ah...," Kholid mendesah, "nikmat mana yang engkau dustakan." Satu bungkus susu sapi murni, telah habis diminumnya. Ia merebahkan tubuhnya kembali ke kursi sofa empuk itu.

"Enak juga ya." Kholid keenakan, "Lagi ah...." Langsung mengambil satu bungkus susu sapi sisanya.

Gluk Gluk Gluk

"Ah... eenaakk" Kholid merasa lega.

"Innama Al Usri Yusro. Setelah kesusahan pasti ada --"

"Woi! Maling!" Suara itu mengagetkan Kholid.

***

"Lid, nanti sore ada latihan pencak silat pancasona. Aku rencananya mau ikut, tapi kalo sendirian males, ntar dikira orang ilang, makanya aku ajakin kau." Ken menatap Kholid dengan wajah berharap.

"Yaelah, kalaupun kau bareng aku, juga masih kayak orang ilang. Emang wajah kau itu macam wajah orang ilang." Kholid terkekeh.

"Asem. Keren-keren gini dibilang orang ilang," Ken melancarkan pukulan menggunakan plastik susu yang sudah habis itu, Kholid menghindar, "mau ikut nggak?" Lanjut Ken.

"Ayo berangkat sekarang." Jawab Kholid sekenanya.

"Berangkat sendiri noh, kalo mau ngepel." Ken tertawa.

"Bukan." Sanggah Kholid, "Wifinan dulu hehe...."

"Yaelah, kaya-kaya masih suka gratisan." Ejek Ken.

"Lho... belum tau ternyata. Asal kau tahu, ini adalah salah satu trik agar ...."

"Kaya orang nggak punya." Pangkas Ken sambil tertawa.

"Heh...," Kholid langsung menyaut, "biar kaya itu caranya gini. Nggak ngabis-ngabisin uang cuma buat hal-hal yang nggak terlalu penting."

"Iya-iya percaya deh sama orang kaya. Aku mah apa." Ken merendah.

"Hehe.. harus itu. Orang kaya bisa melakukan apa aja. Hihihi." Kholid tertawa penuh kemenangan, "Ya udah, Ayo berangkat." Pungkasnya.

"Hmm... semangat banget kalo masalah latihan pencak silat." Ken menggerutu.

"Sebagai orang kaya, aku harus bisa menjaga diri agar bisa menjaga harta benda yang kupunya." Ucap Kholid dengan nada sombongnya."Tapi terkadang aku berpikir," Muka Kholid berubah kecut, "kau lebih beruntung daripada aku. Aku harus menjaga dan memikirkan kekayaan yang kupunya agar aman dan tidak salah menggunakan. Setiap hari aku dipusingkan oleh dunia yang selalu membuatku tersiksa. Nggak nyaman banget deh pokoknya. "Kholid terlihat pasrah, "Sedangkan kau, Ken. Kau tidak sepertiku. Kau tidak punya tanggungjawab seperti yang sedang aku tanggung sekarang ini. Kau bisa bergerak bebas sesukamu. Dan aku berpikir. Hidupmu lebih nyaman daripada ...."

"Eits-eits," Ken memotong, Kholid melongo, "kau belum tahu apa yang aku rasakan, Lid." Ken menyanggah tanda tak setuju, "Kau bilang aku nyaman, bisa bergerak bebas? Kau salah." Kholid seamkin melongo. "Bagaimana aku bisa nyaman dan bergerak bebas sedangkan aku hanyalah pengangguran yang tak punya uang? Justru aku iri dengan kehidupanmu, Lid. Kehidupan yang serba kecukupan dengan rumah yang nyaman. Sedangkan aku? Rumahku? Aku tidak punya rumah. Masih ikut orang tua. Ya serba sulit lah." Pungkas Ken.

Lengang sejenak.

Ken memulai berbicara lagi.

"Gimana kalo kita tukeran aja, Lid? Aku yang kaya dan kau yang nggak punya apa-apa?" Ken tertawa

"Enak aja. Enak di loe nggak enak di gue." Kholid protes.

"Yaelah. Tadi bilangnya hidupku lebih nyaman. Giliran ditawarin gantian nggak mau." Ledek Ken.

"Ya...."

"Bilang aja nggak mau." Pangkas ken.

"Hehe.. belum siap jadi orang yang nggak punya apa-apa Ken. Kalo gantian terus frustasi, terus bunuh diri gimana?"

"Aku ikhlas kok. #eh. Wkwkw." Jawab Ken sekenanya.

"Astaghfirullah." Kholid memandang Ken geram.

"Wkwkw... becanda-becanda. Nggak usah dimasukin ke tong sampah. Eh, Ke hati maksudnya." Papar Ken dengan candanya.

"Jadi berangkat sekarang nggak nih?" Kholid mengalihkan pembicaraan.

"Heh.. belum selesai urusan yang tadi."

"Urusan apa?"

"Urusan gantian peran dong" jawab Ken mantap.

"Udah ah gaje banget. Mending sekarang berangkat latihan silat aja." Tegas Kholid.

"Siap mas Bos." Ken berdiri dengan posisi hormat ke arah Kholid.

"Nah... gitu dong. Semakin cepat semakin baik. Coz, Bisa wifinan sepuasnya. Hehe...." Ucap Kholid sambil beranjak dari tempat duduknya dengan wajah penuh dengan keceriaan.

Ken hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sambil mengelus-elus dada berlagak layaknya orang tua. Sebenarnya Ken ingin meledek Kholid. Tapi ia mengurungkan niatnya karena tidak ingin terus berdebat dengan Kholid.

Kholid berjalan ke arah kamarnya.


"Aku mau ganti pakaian dulu ya, Ken?"

"Oke siap. Aku juga mau ganti kostum dulu, Lid."

"Lho... udah punya kostumnya, tho?" Tanya Kholid sambil menghentikan langkahnya dan memalingkan wajahnya ke arah Ken.

"Udah dong. Kostum olah raga hehe...." Jawab Ken sambil meringis kuda.

"Yaelah... kirain udah punya. Ya udah, sana pulang dulu." Ucap Kholid sambil berlalu.

"Asem ah. Diusir." Gerutu Ken dengan meninggikan volume suaranya.

Ken beranjak dari tempat duduk dan keluar dari rumah Kholid, kembali menuju ke rumahnya. Sedangkan Kholid sedang disibukkan dengan aktivitasnya, yaitu memilih pakaian untuk latihan nanti.

Chapter 4 - 

Jebakan dan Pertolongan

Wallpaper Jebakan dan Pertolongan
Ilustrasi Jebakan dan Pertolongan

Di halaman rumah mewah, burung-burung asyik mengoceh di atas pohon yang hijau rindang menjulang tinggi. Sesekali mereka turun ke tanah mencari makan, kemudian terbang ke arah rumah mewah yang menghadap ke utara dan hinggap di jendela rumah, tepat di ruang tengah dimana Kholid sedang duduk menghadap ke barat, merenung mengartikan mimpi yang ia alami.

"Mimpi yang aneh." Gumam Kholid dalam hati.

Dalam hati, Kholid bertanya-tanya tentang mimpi yang di-alami-nya. Ia merasa, mimpi itu terlihat nyata yang seakan-akan memang dirinya berada di dunia nyata.

Memang akhir-akhir ini, -- setelah Kholid melakukan percobaan raga sukma tanpa guru -- Kholid sering bermimpi aneh seperti itu. Tapi ia belum menyadari adanya ancaman dari dunia lain.

Kholid menghela nafas panjang, sesekali menyapu pandangan ke seluruh sudut ruangan.

Ruang tengah yang luas dengan tinggi lima meter itu terlihat mewah dengan dinding berwarna kuning terang keemasan.

Di dinding sebelah barat, terdapat Hiasan dinding Model timbul bergambar Ka'bah dengan lampu yang menimbulkan effek nyata pada malam hari.

Di samping kirinya ada kain sulam bertuliskan ayat Alquran. Dan di sebelahnya lagi adalah pintu kamar dengan kelambu kuning keemasan yang menutup pintu mewah berbahan kayu jati berukir-ukiran indah menawan.

Sedangkan di sebelah kanan gambar ka'bah adalah pintu kamar, sama seperti pintu sebelah kiri gambar ka'bah.

Di dinding sebelah timur, adalah lima jendela kaca bening sederhana yang membentang panjang sepanjang dinding ruang tengah. Jika dilihat dari luar, lima jendela itu terbingkai kayu jati yang kuat berwarna coklat kehitaman, sekaligus sebagai pelindung yang bisa di buka tutup. Jika dilihat dari dalam, lima jendela itu dihiasi oleh kelambu berwarna kuning keemasan, ke atas menutup seluruh jendela dengan menyisakan fentilasi, dan ke bawah tidak menyentuh lantai.

Kholid masih memperhatikan setiap sudut ruang tengah itu.

Di sebelah utara terdapat dua lemari besar dan panjang terbuat dari kayu jati, berwarna cokelat keemasan, terlihat gagah dan mewah. Lemari buku itu menjadi pembatas antara ruang tengah dan ruang tamu.

Di sebelah selatan adalah dinding yang sengaja dibiarkan terbentang tanpa hiasan. Hanya saja ada jam mewah dan besar dan juga ada jalan penghubung antara ruang tengah dengan dapur.

Melihat ke atas terpampang atap berplafon ukir-ukiran dengan warna putih bersih. Di tengahnya terpasang lampu mewah dengan aksesoris cantik terlihat enak dipandang, juga sangat nyaman dirasakan.

Di sekelilingnya juga terdapat lampu-lampu kecil yang terpasang menjorok ke dalam plafon dan terbungkus oleh alumunium. Jika lampu-lampu itu dinyalakan, maka akan terlihat keindahan cahaya yang memantul pada alumunium itu.

Semuanya terlihat sangat serasi dengan perpaduan arsitek khas eropa dan timur tengah.

Kholid menghela napas dalam-dalam. Ia melirik ke kiri tertuju pada jam mewah. Jam sudah menunjukkan pukul 07.12 WIB. Tangannya merogoh saku, mengambil ponsel. Matanya tertuju pada layar ponsel. Ada pesan masuk, tanpa pikir panjang, pesan itu langsung dibukanya.

"Pagi Sayang."


"Kau lupa ya, kalo kemaren kita udah putus?" 

"Oh, iya ya. Aku lupa."


"Ya, iya dong. Mau balikan lagi? Sorry." 


Kholid, menghempaskan tubuhnya di kursi sofa. Tubuhnya memantul-mantul di sofa empuk dan pikirannya melayang pada sosok mantan kekasihnya yang telah menghianatinya. Ia teringat pada pelajaran agama yang pernah dipelajarinya. Salah satu materinya menyatakan bahwa umur, rejeki, dan jodoh sudah ditentukan Yang Maha Kuasa.

Kholid mencoba berdiri dan menghempaskan kembali tubuhnya ke sofa empuk itu. Ia mulai sadar dengan kebodohannya.

Kholid masih membayangkan awal bertemu dengan kekasihnya dan jatuh hati pada pandangan pertama, hingga akhirnya ia berani mengungkapkan perasaan cinta pada kekasihnya.

"Hmm. Aneh tapi nyata. Nggak habis pikir saat itu, kok bisa-bisanya aku sampai mau ngungkapin perasaan cinta ke dia." Ungkapnya dalam hati.

Sesekali Kholid tersenyum menertawakan dirinya sendiri, karena kekonyolannya waktu itu.

Kholid menghela napas panjang. Ia mencoba memejamkan mata, kedua tangannya diletakkan di samping badan, pandangannya ke atas terpejam, dan mencoba untuk me-rileks-kan seluruh badan. Sejurus kemudian Kholid sudah tak sadarkan diri.

***

"Balonku ada lima
Rupa-rupa warnanya
Hijau kuning kelabu
Merah muda dan biru."

Terdengar suara nyanyian anak-anak kecil. Suara itu terdengar nyaring melengking, pelan, dan di iringin suara musik gamelan.

Masih dengan mata terpejam Kholid menerka-nerka suara itu. Suara anak-anak kecil yang menyanyi riang gembira.

"Suara siapa, tuh?" Tanya Kholid dalam hati.

"Ponakan? Bukan, mereka kan masih sekolah." Tanya Kholid pelan-pelan sambil mengingat-ingat.

"Kalo anak-anak tetangga? Pasti bukan juga." Kholid mulai curiga.

"Jangan-jangan...?" Tubuh Kholid bergetar hebat, merinding ketakutan.

Mata Kholid yang terpejam mulai ia buka perlahan-lahan. Masih separuh ia membuka mata, Ia merasakan seperti sudah berganti alam, seluruh ruangan menjadi berwarna serba hitam.

Suara nyanyian anak-anak kecil itu masih terdengar, Kholid semakin bergidik ketakutan. Ia memberanikan diri untuk membuka matanya secara penuh, kepalanya masih mendongak ke atas. Tepat ketika matanya terbuka penuh, sosok wajah misterius mucul menghadap persis di depan wajahnya. Ia segera menutup mata dan ia hanya pasrah sambil berdoa,
"A'udzubillahiminasysyaithonirrojim." Kholid membaca doa-doa yang ia ketahui, juga melafalkan ayat-ayat alquran yang ia hafal. Ia berharap sosok wajah misterius di hadapannya kepanasan atau menghilang.

Tapi dugaan Kholid salah. Ia merasakan sesuatu yang aneh di pundaknya, seperti ada yang menepuk-nepuk pundaknya.

Kholid semakin merinding ketakutan. Ia mulai pasrah sepasrah-pasrah. Ia baru menyadari bahwa hantu tidak mempan dengan dibacakan doa-doa dan ayat-ayat alquran.

"Andaikan kemarin aku ikut pergi," Kholid berandai-andai."mungkin aku nggak bakalan seperti ini." Ia terbayang sosok Ibu-nya yang sangat mengharapkannya untuk ikut menjenguk adiknya di pondok.

Kholid memang menolak ajakan Ibu-nya dengan alasan jaga rumah, karena sekeluarga ikut semua.

"Ah! Sudahlah,"Kholid mendesah pasrah,"yang penting sekarang aku..." kata-katanya terhenti karena dalam posisi memejamkan mata, ia melihat cahaya berbagai warna melingkar dengan warna dasar hitam (portal).

Belum sempat berpikir, ada tangan yang muncul dari dalam lingkaran cahaya itu dan langsung menarik paksa Kholid masuk ke dalamnya.

Sekitar 10 detik berputar-putar di dalamnya, kini Kholid sudah berada di alam aneh yang belum ia ketahui. Ia menyapu pandangannya ke segala penjuru arah. Suasana tampak gelap dan sedikit remang-remang. Ia juga tak merasakan kedinginan.

Kholid masih menyapu pandang ke berbagai arah. Di belakangnya adalah sawah, di samping kanannya juga sawah. Di samping kirinya adalah perkebunan kelapa sawit yang rimbun, sedangkan di depannya adalah jembatan empang. Memandang ke depan terlihat ada beberapa remaja yang sedang asyik berkumpul di jembatan entah apa yang sedang mereka bicarakan.

Memandang jauh lagi ke depan terlihat perkampungan dengan rumah-rumah sederhana tahun 90-an.

Kali ini Kholid tak merasakan ketakutan, hanya saja ia kebingungan dengan melihat dirinya berada di dunia aneh itu. Ia memberanikan diri mendekati remaja-remaja yang berada di jembatan itu. Sampai di depan, mereka hanya berdiri dan menatapnya sambil memberi isyarat kepadanya untuk terus berjalan ke perkampungan.

Kholid berjalan ke arah perkampungan mengikuti jalan beraspal, dan sampailah di pintu gerbang perkampungan. Pintu gerbang itu terlihat kusam, dan terdapat tumbuh-tumbuhan paku yang melingkarinya.

Memandang ke depan, Kholid melihat banyak anak kecil yang berlarian. Ia mulai merasa lega, dan terus berjalan ke depan menuju keramaian.

"Sepertinya aku kenal wajah itu." Kholid bergumam dalam hati. Ia melihat temannya berada di depannya. Ia mencoba memanggil temannya yang sedang berjalan ke arahnya dengan tatapan tidak tertuju padanya. Anehnya teman Kholid tetap berjalan ke arahnya, tetapi seperti tidak mendengarkan panggilannya.

Kholid hanya bisa melihat dan memperhatikan temannya yang berjalan ke depan ke arahnya, sosok itu masih terus berjalan mendekati dan menembus tubuh Kholid.

Kholid mulai menyadari bahwa dirinya berada di alam lain, bukan alam manusia. Ia menyangka dirinya sedang berada di alam jin.

Kholid masih berdiri sendiri kebingungan. Anak-anak kecil yang berlalu-lalang menembus tubuhnya sudah mulai menghilang, menyisakan berbagai pertanyaan yang terus mengiang di dalam pikirannya.

***

Kini Kholid berada di depan rumah. Rumah itu terlihat sederhana, dari dalam terpancar sinar lampu yang terang, dan terlihat banyak orang yang masuk seperti ada hajatan. Anehnya, ia merasa rumah itu tidak asing, bahkan merasa seperti rumah sendiri.

Kholid masuk ke dalam, terlihat banyak makanan yang telah dihidangkan. Makanan-makanan itu didominasi makanan berbungkus daun pisang. Ada banyak buah-buahan yang juga disajikan. Dan ada satu hal yang menarik perhatian Kholid yaitu, makanan yang berada di nampan. Adalah nasi tumpeng yang terlihat sangat spesial diantara makanan-makanan lainnya.

Di sekeliling makanan-makanan itu adalah orang-orang yang siap-siap untuk makan. Sebagian orang sudah mengambil makanan yang mereka inginkan. Kholid tidak merasakan keanehan pada orang-orang itu, mereka tidak terasa asing, bahkan seperti saudara-saudaranya sendiri.

Semua orang memakai pakaian khas tahun 90-an. Yang laki-laki memakai celana dan baju kemeja batik model lama, sedangkan yang perempuaan memakai pakaian tertutup khas tahun 90-an yaitu kebaya.

Kholid duduk diantara mereka. Pandangannya masih memperhatikan setiap orang yang ada di sana. Matanya tertuju pada perempuan tua yang masih lincah dengan aktivitasnya.

Perempuan tua itu tersenyum memandang ke arah Kholid dan mempersilakan Kholid untuk mengambil makanan. Bagi Kholid perempuan tua itu terasa seperti neneknya sendiri.

"Nggak usah sungkan-sungkan, ayo dimakan." Suruh perempuan tua itu sambil berdiri memandang Kholid, lalu pergi dan lenyap di balik kayu pembatas ruang tamu dengan ruang tengah.

Dalam keadaan sadar, Kholid mengambil sepiring nasi tumpeng yang ada di hadapannya. Hampir saja Kholid mau makan, tapi ia teringat pada seseorang yang pernah mengatakan bahwa, jika seseorang yang masuk ke dalam alam jin, lalu memakan makanan yang ada di sana, maka ia akan susah untuk kembali ke alam manusia, atau bahkan selamanya akan di sana.

Kholid segera mengembalikan makanan itu ke tempatnya, dan ia segera keluar dari rumah sederhana itu.

Kholid sangat menyadari bahwa itu bukan dunianya. Dunia yang sedang ia tempati itu adalah dunia lain, mungkin dunia jin, sangkanya kembali.

Kholid memutuskan untuk kembali ke dunianya, yaitu dunia manusia, tapi sayangnya ia tidak tahu cara melakukannya. Ia pun memutuskan untuk berjalan mencari jalan keluar agar bisa keluar dari dunia lain itu.

Di perjalanan, Kholid di hadang oleh seorang remaja yang sebaya dengannya. Remaja itu langsung menyerangnya, begitu juga dengan Kholid, yang langsung menangkis serangan remaja itu. Kholid sudah tidak asing dengan sosok remaja itu, dialah salah satu dari sekian banyak makhluk yang akhir-akhir ini mengganggu tidurnya.

Pertempuran tidak bisa di-elak-kan lagi. Musuh masih terus menyerang, dan Kholid mencoba mengeluarkan doa-doa yang di bentuk menjadi kekuatan untuk melindungi dirinya dari serangan-serangan musuh.

Kholid terus membaca doa, dzikir, dan ayat-ayat Alquran yang ia hafal sambil menahan dan menyerang musuh. Tapi doa itu tak cukup untuk menahan kekuatan musuhnya. Tangan musuh yang penuh dengan kekuatan itu menarik-narik tubuhnya, sedangkan Kholid berusaha melepaskan tangan musuhnya itu.

Kholid memegang erat-erat tangan musuh dan Memutarkan tubuhnya kencang-kencang. Ia terus memutarkan tubuhnya sampai membentuk angin lesus kecil, sedangkan musuhnya memegang erat tubuh Kholid.

Putaran itu semakin kencang, angin di sekitarnya pun ikut berputar, pepohonan disekitarnya melengkung dan tumbang terkena angin lesus yang semakin membesar.

Masih dalam keadaan memutar, Kholid berusaha melepaskan tangan musuh yang memegang erat tubuhnya. Beberapa jurus kemudian, Kholid berhasil melepaskan diri dari tangan musuhnya. Lalu ia memegang erat-erat tangan musuhnya, dan dengan teriakan takbir, Kholid melempar musuhnya dengan kekuatan penuh.

Musuh terlempar jauh entah kemana, mungkin sampai negeri seberang. Bersama hilangnya musuh, Kholid sudah berdiri diam menatap ke depan, dalam hatinya mengucapkan ucapan syukur kepada Sang Tuhan.

Kini di depannya -- berjarak 10 meter -- terlihat ada dua pemuda yang sedang berdiri membelakanginya, mereka sedang berbincang-bincang. Kholid mendekati mereka.

"Mas. Mas." Kholid memanggil dua pemuda itu, mereka menoleh ke arah Kholid dan tersenyum. Salah satu pemuda meninggalkan tempat, entah mau kemana.

Kholid ingin menjelaskan tentang kejadian perkelahian itu, tapi ia mengurungkan niatnya ketika melihat pemuda itu tersenyum tanda sudah mengetahuinya.

"Ia menggangguku, jadi terpaksa kulempar jauh." Kholid langsung to the point. Pemuda itu masih tersenyum, tanda sudah tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Pemuda itu sangat ramah, dengan postur badan yang ideal. Ia mengajak berjabat tangan Kholid. Kholid pun mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan. Tepat ketika tangan mereka berjabat, pandangan Kholid langsung kabur dan remang-remang. Kholid masuk ke dalam portal yang entah akan membawanya kemana.

***

Tamu yang Tak Diundang

Wallpaper Rumah Di tengah Hutan
Ilustrasi Rumah


"Tok..Tok..Tok.."

Terdengar suara pintu diketok. Kholid masih tertidur pulas.

"Tok..Tok..Tok.." Suara ketokan itu muncul lagi lebih keras. Kholid mulai mendengar samar-samar karena dia benar-benar kecapekan setelah beraktivitas seharian di sekolah.
 
"Tok..Tok..Tok.." Suara itu terdengar semakin keras. Kholid mulai mendengar lebih jelas.

"Suara apa itu tadi" dalam hatinya bertanya-tanya. Kholid mulai mempertajam pendengarannya.

"Tok..Tok..Tok.." Suara itu kembali didengar Kholid dan semakin jelas karena dia sudah sepenuhnya sadar. Dia menduga itu suara ketokan dari pintu depan.

Kholid mengambil ponsel yang ada di sampingnya dan matanya langsung tertuju pada jam digital yang ada di ponselnya.

"Jam 00.00 WIB, siapakah yang ketok-ketok pintu di tengah malam seperti ini?" Ia bergumam dalam hati.

Kholid bergegas bangun, tapi tak langsung menuju asal suara itu yaitu pintu depan rumahnya. Ia masih menduga-duga sosok di balik pintu itu. Dengan langkah hati-hati dia mulai mendekati pintu.

Suara ketokan itu masih terus berbunyi untuk kesekian kalinya. Semakin Kholid dekat dengan pintu, semakin jelas pula suara ketokan itu. Suara auman srigala mulai bersautan dari balik hutan belantara jauh nun sana membuat Kholid bergidik merinding. Tak hanya Kholid saja yang ketakutan, semua orang yang mendengarnya pun pasti akan ketakutan. Belum lagi suara-suara binatang buas lainnya juga suara-suara serangga dari semak-semak belukar belakang rumah yang tak mau kalah.

Sambil menatap ke pintu Kholid memberanikan diri untuk membuka pintu rumahnya yang mulai kropos itu.

"Krengkeeet.." Terdengar suara pintu yang dibuka Kholid secara perlahan. Pintu itu sudah berumur puluhan tahun seperti sudah tak layak untuk dipakai. Tapi karena Kholid belum punya dana yang cukup untuk menggantinya, akhirnya dia membiarkan pintu tua itu tetap terpasang.

"Lho... kok nggak ada orang?" Gumamnya dalam hati. Kholid seperti orang kesasar yang kebingungan. Ia menengok ke kiri dan ke kanan mencari sosok yang mengetok pintu rumahnya.

Dan setelah tak menemukan yang ia cari, ia menyimpulkan dan menganggap itu cuma ulah abg-abg yang usil.

Ketika berbalik arah,  ia merasakan kelebatan bayangan di belakangnya. Tubuhnya semakin bergidik merinding ketakutan. Dengan perlahan-lahan ia membalikkan badannya dan teringat oleh kata-kata guru sekolahnya. Guru sekolahnya -- pengampu pelajaran ekonomi -- pernah mengatakan, jika merasa merinding berarti ada jin yang sangat dengan kita. Kholid semakin merinding ketakutan karena ia merasakan hal yang dikatakan oleh gurunya itu. 

Tetapi karena Kholid masih penasaran, ia mencoba terus memutar badannya ke belakang dengan pelan-pelan. Semakin dirasakan, semakin tinggi rasa penasarannya. Akhirnya Ia memberanikan diri memutar badannya ke belakang dengan gerakan cepat.

"Astaghfirullahal 'Adziim.." Kholid terperanjat kaget dan pingsan.

SEMI INDIGO

Wallpaper Semi Indigo
Cover Semi Indigo
Cerita ini berkisah tentang perjalanan seorang remaja yang menelusuri dunia lain. Dia adalah Kholid, remaja yang mempunyai hobi aneh yaitu, mencari sesuatu yang berbau mistis. Misalnya mencari harta karun ghoib yang dia yakini ada, padahal dia belum pernah melihatnya.

Dia juga suka mencari benda-benda keramat sejenis keris, cincin batu akik dan semacamnya, namun dia tak pernah menemukannya. Sebenarnya kalau disebutkan satu persatu mungkin ada lebih dari 100 jenis benda keramat yang dicarinya. 

*** 

Dalam perjalanan mencari benda keramat, kholid mendapatkan cahaya terang yang menyinari hatinya dan bertobat menuju jalan yang benar sesuai dengan Syariat Agama Islam. Hal itu terjadi karena lantaran teman Kholid yang mengajak kholid ke seorang guru spiritual yang menunjukkan jalan kebenaran. 

Dari situlah petualang kholid dimulai. Banyak hal-hal di luar nalar yang disaksikan kholid setelah Kholid berguru dengan Guru spiritual tersebut. Dan Kholid diberi misi untuk melawan para pengikut Dajjal, dan meluruskan akidah manusia. 

Dapatkah Kholid menyelesaikan misi itu? 

Baca selengkapnya di cerita ini.
Perguruan Silat Rawa Rontek

Latihan Tenaga Dalam

Latihan Mata Batin

Serangan Mendadak di Sekolah

Bertarung dengan Jin Penguasa wilayah

Diganggu penghuni rumah

Jalan-Jalan berkeliling dunia

Bertarung dengan Dukun Sakti Mandraguna

Teror Dunia Lain

Ilmu Kanuragan Level Tertinggi

Ilmu Pemikat Hati

Ilmu Langkah Seribu

Berjuang Tanpa Batas

Pengobatan Jarak Jauh

Petaka Sesajen